Senin, 16 Juli 2018

AS Berencana Evaluasi GSP Produk Ekspor Indonesia

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan peringatan kepada Indonesia karena jumlah ekspor Indonesia ke AS lebih tinggi dibanding jumlah ekspor AS ke Indonesia. Karena itu, saat ini pemerintah AS sedang melakukan pengawasan terhadap 124 produk ekspor Indonesia.

Pengawasan itu dilakukan seiring dengan kebijakan pemerintah AS yang mulai mengkaji total 3.500 produk-produk yang masuk Generalized System of Preference (GSP) atau daftar produk yang bebas bea masuk yang dihasilkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Dia (Trump) sudah kasih kita warning bahwa ekspor kita lebih banyak pada dia dan kita harus bicara pada dia mengenai beberapa aturan-aturan di mana dia memiliki special tariff placement yang dia mau cabut. Terutama di bidang tekstil dan lain-lain,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi di Jakarta.

Dia menjelaskan memang saat ini keadaan perekonomian global tengah berada dalam ketidakpastian (uncertainty). Pemicunya kerap berasal dari kebijakan yang diambil Presiden AS Donald Trump yang memang susah ditebak.

“Kita tidak tahu perang dagang AS-China ini kayak apa, apa benar terjadi. Kemarin saya ke AS, tidak ada yang mengerti Trump maunya apa,” jelas Sofjan yang juga Ketua Tim Ahli Ekonomi Wakil Presiden.

Oleh karena itu, dia mengharapkan semua pelaku industri untuk tetap menjaga situasi bisnis masing-masing sembari terus melakukan koordinasi dengan pemerintah. “Jadi jaga saja cash flow-nya masing-masing, jaga perusahaan masing-masing, karena efeknya tidak akan terjadi segera, tapi setelahnya,” tandasnya.

Seperti diketahui, sejumlah produk ekspor dari Indonesia ke Amerika Serikat bebas bea masuk karena kebijakan Generalized System of Preferences (GSP). Kini kebijakan tersebut sedang dikaji ulang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ada 124 barang yang direview ulag oleh Trump. Trump berpotensi mencabut GSP untuk barang-barang tersebut. Apabila Trump mencabut GSP sejumlah barang tersebut, artinya ada bea masuk yang harus dibayarkan.

Sofjan menjelaskan, Indonesia berpotensi membayar bea masuk sekitar US$ 1,8 miliar per tahun atau setara Rp 25,2 triliun (Kurs Rp 14.000/US$) bila Trump mencabut GSP terhadap barang-barang tersebut.

“Saya percaya kalaupun ditarik semua (124 barang), kita cuma dari US$ 20 miliar trade (perdagangan) dengan AS, itu paling kita kena (bea masuk) US$ 1,7-1,8 miliar. Tidak terlalu besar menurut saya akibatnya yang langsung dari GSP itu,” Sofjan Wanandi ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (9/7).

Namun dia menilai, bea masuk senilai US$ 1,8 miliar untuk barang Indonesia jangan dianggap sebagai kerugian buat Indonesia. “(Jika GSP dicabut), bukan rugi lah, itu kita tetap bisa ekspor, cuma kita harus tetap bayar pajak,” terangnya.

Selain itu, dari total 124 barang yang direview, diharapakan tidak seluruhnya perlakuan khususnya dicabut. “Saya nggak percaya semuanya dicabut, cuma beberapa dia perlu juga,” tambahnya.

Tidak Khawatir
Merespons kondisi tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menganggap kalangan pengusaha Indonesia tidak perlu khawatir atas kajian ulang AS itu.

Airlangga menyebut pemerintah telah melobi AS untuk tetap memasukkan Indonesia dalam daftar penerima manfaat sistem tarif preferensial atau generalized system of preferences (GSP).

“Kami tidak melihat ini akan menjadi ancaman yang besar. Kita komunikasi dan lakukan pembicaraan,” kata Airlangga usai rapat koordinasi di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (09/07).

GSP adalah platform AS untuk memberikan keringanan bea masuk terhadap eksportir dari negara berkembang atau miskin. Tahun 2011 Indonesia adalah satu dari lima negara yang menikmati manfaat terbesar dari GSP AS, selain India, Thailand, Brasil, dan Afrika Selatan.

Sejak April lalu, AS mempertimbangkan ulang pemberian fasilitas itu untuk Indonesia dan India, terutama dari sudut pandang akses produk mereka di dua negara tersebut.(*)

Sumber: klik di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 158 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Indonesia Lubricant Industry Market Trend in 2014 until 2020

Specific Research Market Trend of Lubricant Oil Industry 2014-2020 (Growth Trends & Market Share) was released in the first week of July 2018 containing independent research displays, comprehensive data, latest analysis and market reviews, as well as market volume growth trends and lubricating oil market share in general as well as lubricants specific automotive segment (cars and motorcycles) in Indonesia. The discussions were conducted in detail from the overall market trend of general lubricants (general market), domestic production and sales trends, to more in-depth analysis of motor oil lubricant market, to motor oil players market share.

Specific Research Market Trend of Lubricant Oil Industry 2014-2020 (Growth Trends & Market Share) is the latest update of previous specific research plus projections up to 2020. This specific research begins with the exposure of Indonesia’s macroeconomic data, inflation, and the rupiah exchange rate (page 2 and 3).

Highlights of economic growth and automotive industry growth are presented on page 4. Followed by 2018 business outlook and prospects referring to government economic growth targets in 2018 on page 5. And followed by a review of macroeconomic growth, automotive sales, and global lubricant sales on page 6 .

On page 7 and 8, the market trend analysis of lubricant oil market conditions in Indonesia from Duniaindustri.com team survey resulted from 2017 to first semester of 2018. Followed by the latest acquisition plan that will happen in the lubricant industry in Indonesia on pages 9 to 11.

Going into the core study, on pages 12 to 14 describe the market size trends of lubricant oil in Indonesia, divided into local sales as well as import volume & oil mix period 2014-2020. The data are then analyzed in detail on pages 14 and 15. Then the data is reinforced by the market share of the lubricant industry (overall market) in the period 2011 to the first half of 2018 on pages 16 to 22.

The track record of the lubricant oil business competition competition in Indonesia is described in detail on pages 23 to 26. Followed by a discussion of the composition/portion of the automotive oil segment and the industrial oil segment to the total market value on pages 27 to 29. The lubricant oil composition data per segment is then -breakdown to withdraw its growth trend and analyzed on pages 29 to 35.

On pages 36 to 38, the market trend of motor oil lubricant growth in the period of 2017 to the first semester of 2018, along with market analysis and survey results of Duniaindustri.com team. Followed by a discussion of market intelligence results containing exposure to sales performance, production, and market share of the two market leaders of lubricant oil industry, plus business strategy and forward targets on pages 39 to 56.

Specific Research Market Trend of Lubricant Oil Industry 2014-2020 (Growth Trend & Market Share) contains 57 pages measuring 6.16 MB, derived from exclusive research and survey results of Duniaindustri.com team, supported by supporting data from the Ministry of Industry, BPS, WHO and the World Bank, Ministry of Energy and Mineral Resources, industry associations and a number of lubricant oil companies in Indonesia. Industry data index is the latest feature in duniaindustri.com which displays dozens of data options according to the needs of users. All data is presented in pdf format so that it is easy to download after users perform process according to procedure, ie click purchase (purchase), click checkout, and fill form. Duniaindustri.com prioritizes the validity and validity of the data sources presented.(*)

Source: click here

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 158 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya:

Selasa, 10 Juli 2018

158 Bahan Presentasi Kajian Persaingan Brand

Pasca semester I 2018, tren industri cenderung berubah dengan sangat cepat, berdasarkan riset data Duniaindustri.com. Produk dengan harga jual yang lebih kompetitif, pelayanan prima, cepat sampai ke konsumen, serta kualitas wahid menjadi preferensi utama konsumen.

Selain itu, para pelaku industri cenderung memompa volume penjualan dengan mengorbankan harga jual. Singkat kata, harga jual boleh ditekan, tapi volume penjualan mesti bertumbuh. 

Di sisi lain, konsumen saat ini cenderung lebih memilih dalam berbelanja yang seperlunya, walaupun terjadi tren peningkatan dalam aktivitas pelesiran. Sementara upaya perbaikan pemerataan infrastruktur menjadi prioritas pemerintah dengan ratusan proyek di seluruh Indonesia. Demikian cuplikan tren yang sedang terjadi saat ini di negeri kita.

Persaingan antar perusahaan semakin ketat. Kemampuan perusahaan untuk mengendalikan harga jual pun kini menjadi terbatas. Tidak lagi mudah bagi produsen mematok laba yang tinggi dengan menaikkan harga. Sebab harga yang tinggi membuat produk tersebut akan dijauhi oleh pembelinya. Pembeli akan lebih beralih ke produk yang berkualitas baik, namun berharga murah, serta mempunyai layanan purna jual cepat dan mudah. Ironisnya, dengan kondisi pasar yang semakin sulit ini, manajemen justru dituntut untuk meningkatkan laba perusahaan. Tidak ada pilihan lain, bahwa tuntutan itu hanya bisa dilakukan jika perusahaan mampu menurunkan biaya (cost reduction) dan menghilangkan proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah.

Berbicara nilai tambah, makin banyak perusahaan yang memanfaatkan teknologi informatika terkini untuk meningkatkan kemampuan dan strategi penetrasi pasar. Tak ketinggalan teknologi big data.


Karena itu, Duniaindustri.com, sebuah startup khusus di segmen industri, berupaya untuk memfasilitas hal tersebut dengan terus mengupdate database industri. Selain itu, Duniaindustri.com juga meningkatkan pelayanan bagi pelanggan dan keamanan bertransaksi online dengan mengadopsi teknologi "easy digital download". Dengan teknologi ini, user atau pelanggan dapat dengan mudah bertransaksi serta mengakses database industri secara lebih cepat, praktis, kapanpun dan di manapun berada.


Saat ini lebih dari 158 data historis industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi, menjadi kumpulan database di duniaindustri.com.

Per awal April 2017, detektif industri juga dilengkapi tools (instrumen analisis) untuk melakukan market intelligence (competitor intelligence) dengan lebih terukur, komprehensif, dan berkesinambungan. Duniaindustri.com juga memperluas coverage basis data dan database spesifik guna menangkap seluruh aktivitas industri di seluruh sektor usaha di Indonesia.




Sumber: di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 158 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya: