Kamis, 11 Februari 2016

Kini berbisnis lebih mudah dengan fitur Trading Hub

Apakah Anda kesulitan dalam menemukan vendor yang mampu memasok kebutuhan bahan baku, bahan penunjang, ataupun bahan lainnya dengan kualitas prima, harga kompetitif, dan pelayanan oke. Jangan bingung-bingung.

Duniaindustri.com membuka fitur baru yakni trading hub yang berfungsi sebagai fasilitator (penghubung) antara industri dan pemasok (supplier). Dengan dukungan member yang besar dan mesin pencari internal, seluruh kebutuhan industrial usaha Anda dapat kami carikan pemasoknya, tentu dengan keunggulan kualitas prima, harga kompetitif, dan pelayanan terbaik.

Kami menyadari di setiap lini usaha di seluruh sektor industri membutuhkan pemasok (supplier) terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, bahan penunjang, bahan pemasaran, bahan administrasi, hingga bahan pendukung lainnya. Hal itu ditujukan untuk menopang proses produksi industri yang berlanjut ke distribusi (ekspor-impor) hingga after sales service.

Dengan dukungan tim yang solid, kami dapat menjadi one total solution untuk mengantar (mengawal) bisnis Anda ke arah kesuksesan. Seluruh rantai bisnis industri (supply-demand chain) membutuhkan bahan baku, bahan penunjang, bahan pemasaran, bahan administrasi, hingga bahan pendukung lain. Namun, harga, pencarian yang tepat, dan waktu biasanya menjadi kendala. Untuk itu kami hadir guna membantu bisnis Anda.

Semua dilakukan dengan tiga tahap yang mudah:
1. Listing kebutuhan Anda terkait pencarian bahan baku, bahan penunjang, bahan pemasaran, bahan administrasi, hingga bahan pendukung lain, beserta spesifikasi dan kuantitasnya.
2. Kirim listing tersebut dalam bentuk email kepada kami. (Anda dapat mengisi form di bawah)
3. Segera setelah itu, kami akan kembali dengan surat penawaran dari bahan yang Anda butuhkan.

Cukup tiga cara mudah dan gratis. Anda tidak perlu repot dan menghemat tenaga. Lihat saja di sini

Penjualan Baja Indonesia 2015 Diestimasi Rp 76,5 Triliun

Penjualan produk baja Indonesia ternyata cukup besar, pada 2015 ditaksir mencapai US$ 5,35 miliar atau Rp 76,5 triliun, turun dari posisi 2014 sebesar US$ 7,88 miliar atau Rp 112,6 triliun (kurs Rp 14.300/US$). Tim duniaindustri.com memperhitungkan nilai pasar baja Indonesia di 2015 dari prediksi volume pasar baja di Indonesia dengan harga rata-rata di dunia.

Volume pasar baja di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 15,3 juta ton, naik 7,7% dibanding tahun lalu 14,2 juta ton, menurut data Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Kementerian Perindustrian, dan PT BNI Securities.

Sedangkan harga baja dunia (baja canai panas/HRC yang menjadi patokan harga baja dunia) pada awal September 2015 mencapai US$ 340-US$ 350 per ton, menurut data Midle East Steel (mesteel.com). Harga baja dunia pada September 2015 turun 37%-38% dibanding periode yang sama tahun 2014 di kisaran US$ 545-US$ 555 per ton.

Duniaindustri.com menilai penurunan nilai pasar baja di Indonesia disebabkan pelemahan harga baja dunia. Meski secara volume penjualan baja di Indonesia naik, penurunan harga membuat nilai pasar menjadi lebih kecil.

World Steel Association menyatakan produksi baja di Indonesia berkisar antara 3,5–4,2 juta ton per tahun sepanjang 2005-2010. Dengan produksi sebesar itu, Indonesia menempati urutan ke-34 produsen baja terbesar di dunia.




Asosiasi Baja Dunia merekap data produksi baja dari 170 perusahaan baja skala besar, termasuk 18 dari 20 perusahaan baja terbesar di dunia. Data produksi baja dari Asosiasi Baja Dunia merepresentasikan 85% produksi baja global.

Pada tahun lalu, Kementerian Perindustrian memperkirakan produksi baja nasional diperkirakan mencapai 6-6,5 juta ton. Sehingga masih terjadi defisit pasokan baja di dalam negeri mencapai 3-3,5 juta ton. Defisit pasokan itu terpaksa harus dipenuhi dari impor.(*)

Sumber: di sini

Senin, 08 Februari 2016

Penjualan Produk Home Care Tumbuh Paling Tinggi

Berbicara tentang barang konsumsi harian atau fast moving consumer goods (FMCG), penjualan produk rumah tangga (home care) tumbuh paling tinggi sepanjang 2015, baik menurut nilai maupun volume, menurut data Kantar Worldpanel. Sepanjang tahun lalu, penjualan produk home care tumbuh 5,3% secara nilai dan 7% secara volume, meski melambat dibanding 2014 yang tumbuh 17,6% secara nilai dan 10% secara volume.

Setelah produk home care, penjualan personal care (perawatan tubuh) tumbuh tertinggi kedua, dengan mencatatkan pertumbuhan 2% secara nilai dan 2,5% secara volume, juga melambat dibanding 2014 sebesar 14,2% secara nilai dan 3,2% secara volume.

Sementara penjualan produk makanan (foods), dairy, dan minuman (beverages) tercatat tumbuh minus. Penjualan makanan tumbuh -0,4% secara nilai dan -4,9% secara volume sepanjang 2015, sementara tahun sebelumnya tercatat tumbuh 14,4% secara nilai dan 2,9% secara volume. Penjualan produk dairy pada 2015 tumbuh -2,4% secara nilai dan -2,3% secara volume, sementara tahun sebelumnya tumbuh 17,8% secara nilai dan 6% secara volume. Demikian juga penjualan produk minuman hanya tumbuh 1,3% secara nilai sepanjang 2015 dan -3,1% secara volume, sementara tahun sebelumnya tumbuh 10,5% secara nilai dan 3,2% secara volume.

Pertumbuhan negatif tiga produk barang konsumsi harian (fast moving consumer goods/FMCG) itu disebabkan terdampak paling besar terhadap perlambatan ekonomi nasional.

Tumbuh Melambat
Secara total, pasar fast moving consumer goods (FMCG) di Asia, terutama Indonesia, diperkirakan tumbuh melambat pada tahun ini menjadi 4,6%, hanya separuh dari persentase pertumbuhan dalam dua tahun lalu (10% pada 2014 & 2013). Menurut data Kantar Worldpanel Indonesia–lembaga riset, perlambatan terjadi di semua subwilayah, Asia Utara, Asia Tenggara (terutama Indonesia), dan India.

Soon Lee, General Manager Kantar Worldpanel Indonesia, menjelaskan perlambatan tren pertumbuhan itu dipengaruhi pelemahan penjualan makanan dan minuman yang berkontribusi sekitar 60% dari belanja rumah tangga di Asia.

“Dibandingkan dengan tahun lalu, nilai pasar fast moving consumer goods di Indonesia, Thailand, dan Vietnam melambat secara tajam. Volume penjualan fast moving consumer goods hanya tumbuh 0,4% di Asia. Di sektor non-makanan tumbuh tercepat 3,8%,” paparnya dalam keterangan tertulis.
Nilai penjualan industri minuman Indonesia dan China melambat, sementara Malaysia menderita pertumbuhan negatif. Sementara penjualan industri makanan di sebagian besar negara-negara Asia melambat, kecuali Vietnam yang mengalami kontraksi. Untuk penjualan produk personal care, kategori perawatan pribadi, di China menunjukkan pertumbuhan positif.

Pertumbuhan tinggi masih terjadi di segmen produk home care. Penjualan segmen ini mencakup pelembut, sabun cuci piring, masih bisa tumbuh dua digit di Indonesia. Sementara penjualan susu tumbuh dua digit di China dan Filipina, namun terjadi kontraksi di kategori susu di India dan Malaysia.

Fast moving consumer goods mencakup barang-barang konsumsi yang dibutuhkan sehari-hari atau dibutuhkan secara berkala dalam periode waktu tertentu yang singkat. Barang konsumsi jenis itu mencakup produk-produk makanan (food), peralatan rumah tangga (household), dan perawatan tubuh (personal care). Berbeda dengan barang tahan lama (durable goods), barang-barang fast moving consumer goods memiliki umur simpan yang singkat, baik sebagai akibat dari permintaan konsumen tinggi maupun karena produk yang cepat rusak.

Pasar FMCG di Indonesia tumbuh rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 16,6% periode 2004-2010, di tengah fluktuasi inflasi yang dapat menahan maupun menggerus daya beli masyarakat. Sementara periode 2011 hingga saat ini, pertumbuhan pasar diperkirakan sekitar 13%.

Lee menambahkan sejumlah produk FMCG diperkirakan masih dapat tumbuh digit ganda pada tahun ini seperti frozen food dan diapers. Berdasarkan riset Kantar Worldpanel pada tiga bulan terakhir terhadap 20.000 responden, produk siap minum (ready to drink product) seperti kopi siap minum, minuman isotonik, dan minuman energi mempunyai kontribusi volume paling besar untuk konsumsi di luar rumah.

Perusahaan riset itu menemukan hal yang menarik pada pola konsumsi di luar rumah pada setiap kelompok umur. Pada kelompok anak di bawah 10 tahun, preferensi kategori kelompok ini terutama susu cair, biskuit, dan es krim. Remaja usia 11-20 tahun terutama teh siap minum, biskuit, susu cair, dan es krim. Preferensi untuk dewasa usia 31-45 tahun terutama teh siap minum, air minum kemasan, dan isotonik. Sementara preferensi untuk dewasa di atas 45 tahun terutama teh siap minum, air minum kemasan, dan isotonik.(*)

Sumber: di sini

Kamis, 04 Februari 2016

Peranan Data Industri Dalam Mendukung Ekspansi Bisnis

Di setiap lini usaha, mulai dari pembelian bahan baku, pencarian vendor, proses pengolahan, marketing, distribusi, ekspor-impor, semua membutuhkan data, analisis, kajian, dan riset. Bahkan, persaingan pasar juga membutuhkan data, analisis, dan riset untuk mengintip kekuatan-kelemahan pesaing (market intelligence), mempelajari strategi kompetitor, mengakuisisi pelanggan, mempertahankan pangsa pasar, edukasi pasar, edukasi konsumen, brand identity, brand awareness, dan lainnya.



Di era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, data sudah dianggap sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan secara profesional. Seluruh rantai bisnis industri (supply-demand chain) membutuhkan data untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan efisien.

Namun, di Indonesia sering terjadi pencarian data, analisis, dan riset sulit dilakukan karena terbatasnya akses informasi, ruang publik, ekosistem yang belum berkembang, serta ketiadaan forum/ajang interaksi jual-beli data. Karena itu, tidak heran, harga (nilai) sebuah data dapat melambung tinggi karena keterbatasan pasokan, sementara kebutuhan tergolong tinggi.
















Karena itu, Duniaindustri.com memperkenalkan fitur terbaru yakni download database industri aktual. Lebih dari 100 database industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi.






Indeks Data Industri yang bisa didownload:

Data dan Outlook Industri Batubara 2011-2030
Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019
Data dan Outlook Industri Rokok 2005-2016
Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016
Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
Data Industri Minimarket, Supermarket, Hypermarket, dan Modern Trade di Indonesia 2012-2015
Data dan Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016
Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
Data industri sepeda motor dan velg motor di Indonesia
Outlook Industri Otomotif 2016-2018
Outlook Industri CPO 2016
Data Pasar Surat Utang di Indonesia dan ASEAN
Data Kejatuhan Harga Komoditas Ekspor Indonesia dan Depresiasi Rupiah
Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015
Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community
Data dan Analisis Industri Pakan Ternak dan Perunggasan 2007-2017
Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014
Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017
Data Market Insight Private Equity di Asia Tenggara
Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
Data Sumberdaya Batubara, Tren Harga, serta Biaya Produksi per Ton
Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar
Data Industri Properti dan Perbandingan Harga di Indonesia
Data Industri Perbankan, Reksadana, Asuransi, dan Multifinance di Indonesia
Data Industri Televisi Berlangganan di Indonesia
Data Industri Media dan Belanja Iklan di Indonesia
Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia
Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia
Data Energi Terbarukan (Sawit dan Biofuel) Indonesia
Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia
Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
Data Pasokan dan Permintaan Batubara Termal Global
Data Pasar Minimarket dan Restoran Cepat Saji di Indonesia
Data Produksi, Defisit Pasokan, serta Harga Timah
Data Penjualan Per Merek Mobil
Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif
Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC)
Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
Data Industri Perkapalan Indonesia
Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan
Data Produksi, Ekspor, dan Investasi 15 Komoditas Utama Indonesia
Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah
Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar
Data Daya Saing Industri Indonesia di Asean Community 2015
Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi
Data Komprehensif Sasaran, Fokus, dan Kinerja Industri Pengolahan
Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia
Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
Data Segmentasi dan Jumlah Konsumen Kelas Menengah di Indonesia (2012-2030)
Data Industri Batubata (Brick) di Indonesia dan Malaysia
Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia
Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir)
Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir)
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Komprehensif Industri Farmasi Indonesia (Periode Lima Tahun Terakhir)
Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia
Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
Data Top 20 Produsen Obat Generik di Indonesia
Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir)
Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
Data Omzet dan Top 10 Player Industri Makanan-Minuman
Data Pasar Alat Kesehatan di Asia Pasifik
Data Produksi dan Utilisasi 4 Produsen Kertas Terbesar di Indonesia
Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat
Data Industri Alat Musik, Mainan, dan Perhiasan
Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir)
Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar
Data Produksi Gula, Tebu, dan Area Lahan
Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia
Data Jumlah Kendaraan Bermotor, dan Panjang Jalan di Indonesia
Data Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Berdasarkan Jenis
Data Pangsa Pasar Lima Produsen Ban di Indonesia
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Penjualan dan Pangsa Pasar 4 Perusahaan Rokok Terbesar
Data Pasar Farmasi di Asia Pasifik
Data Belanja Alat Kesehatan di Indonesia
Data Kapasitas dan Utilisasi Industri Aneka
Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia
Kajian Komprehensif Industri Kertas di Indonesia
Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas.(*)

Sumber: di sini

Selasa, 26 Januari 2016

Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019

Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019 ini menampilkan ukuran pasar (market size) sektor transportasi dan logistik di Indonesia 2009-2019. Pada 2014, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.810 triliun dengan pertumbuhan 13,2%. Pada 2015, market size tersebut naik 15,2% menjadi Rp 2.086 triliun. Pada 2016, angka tersebut diproyeksi tumbuh 15% menjadi Rp 2.399 triliun, dan terus naik hingga mencapai Rp 3.680 triliun di 2019. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor transportasi dan logistik di Indonesia diperkirakan 15,2% periode 2014-2019.

Sektor ini tumbuh secara signifikan sejak 2009-2019. Pada 2009-2014, pertumbuhan mencapai 13,7% CAGR dari hanya Rp 770 triliun pada 2009.




Segmen pengangkutan laut masih mendominasi sebesar Rp 1.096,6 triliun di 2015, disusul kereta api Rp 31,6 triliun, dan udara Rp 1,43 triliun. Segmen pengangkutan laut diproyeksi tumbuh 6,1% di 2013, 4,3% di 2014, dan 5,1% pada 2015 secara volume. Pengangkutan kereta api tumbuh 13,3% di 2013, 8,5% di 2014, dan 7,5% pada 2015. Sementara pengangkutan melalui udara naik 19,6% di 2013, 15,3% di 2014, dan 12,2% pada 2015. Sektor komoditas menjadi salah satu pendorong sektor transportasi dan logistik mengingat besarnya investasi antara lain di sektor CPO senilai US$ 2,4 miliar.



Selain itu, data ini dilengkapi data-data infrastruktur pendukung transportasi dan logistik di Indonesia, seperti sebaran bandara hingga 2030. Jumlah bandara umum saat ini sebanyak 189 bandara, yang terdiri atas 26 bandara komersial (dikelola PT Angkasa Pura) dan 1.643 bandara nonkomersial. Pada 2030, akan bertambah 44 bandara baru, sehingga total jumlah naik menjadi 233 bandara. Juga ditampilkan ekspansi PT Angkasa Pura I dan II dalam ekspansi bandara, meliputi: kebutuhan investasi, penambahan kapasitas, dan persentase pertumbuhan.




Di samping itu, ditampilkan infrastruktur pelabuhan yang cukup vital mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia (95.181 km). Jumlah pelabuhan saat ini mencapai 2.392 pelabuhan yang terdiri dari 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 terminal khusus. Terdapat rencana penambahan 91 pelabuhan baru di Indonesia bagian timur dengan investasi Rp 3,37 triliun.

Juga, ditampilan infrastruktur jalan dan rel kereta yang menopang pergerakan transportasi darat. Data ini juga dilengkapi infrastruktur coastal shipping, Trans Sumatera Railways, rel kereta api perkotaan, high speed train network hingga 2030.

Tidak ketinggalan, data ini menampilkan rasio biaya logistik dari berbagai sektor industri di Indonesia, misalnya untuk industri pengolahan makanan rasio biaya logistik terhadap input mencapai 35%. Terdapat 24 cabang industri yang memiliki rasio biaya logistik terhadap input yang cukup tinggi.

Data sebanyak 33 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Logistik Indonesia, sejumlah riset perusahaan asing antara lain Frost & Sullivan, dan diolah duniaindustri.com.(*)


Sumber: di sini

Selasa, 19 Januari 2016

Indonesia Oleochemical and Biodiesel Industry Outlook 2015-2016

These data showing the distribution of the oleochemical industry in Indonesia, especially for the production of fatty acid, fatty alcohol, and the final product. The focus of the spread of the oleochemical industry is dominated in North Sumatra. The total capacity of the oleochemical industry in Indonesia reached 1,599 million tons per year. There are 9 major players in between PT Musim Mas with capacity of 450 thousand tons per year, PT Ecogreen 419 thousand tons per year, PT Wilmar Nabati Indonesia 132 thousand tons per year, complete with a map of the location of each of the company’s factory.

These data also describe the distribution map Indonesian biodiesel industry 2014-2016 period. In 2014, the total capacity of the biodiesel industry in Indonesia reached 4.99 million tons, equivalent to 5.67 million kiloliters, with details of Riau and Riau 2.61 million tons, Eastern Java 1.57 million tons, Western Java 364 thousand tons, and other areas 233 thousand tons. There are 17 large-scale players including PT Wilmar Bioenergy Indonesia in Riau with capacity of 1.3 million tons per year, PT Musim Mas in the field with a capacity of 235 thousand tons per year, PT Eterindo Whanatama Gresik with a capacity of 80 thousand tons per year, PT Wilmar Indonesian Vegetable in Gresik (1.3 million tonnes per year), PT Sumi Asih Oleochem in Bekasi (100 thousand tons per year), PT Darmex Biofuels in Cikarang (150 thousand tons per year), and others, complete with a map of the location of each each plant.




In 2015, the addition of biodiesel capacity of 2.32 million tons per year, bringing the total national capacity rose to 7.32 million tonnes. There are 11 players large-scale capacity expansion in 2015, among others PT Oleochemicals Sejahtera Mas in Dumai with a capacity of 500 thousand tons per year, PT Darmex Biofuels in Dumai amounted to 410 500 thousand tons per year, PT Indo Biofuels Energy in West Kalimantan (100 thousand tons / years), PT Permata Hijau Palm Oleo in Medan (140 thousand tons / year), PT Nusa Energy in Kaltim (100 thousand tons / year), PT Bits Energy in Kaltim (100 thousand tons / year), PT Multi Biofuel Indonesia in North Sulawesi (160 thousand tons / year).

This data is also equipped with projection Indonesian CPO production in 2016 amounted to 35 million tonnes, up 9.3% compared to the projected 32 million tonnes this year, according to data from the United State Department of Agriculture (USDA). The increase will push the global CPO production increase of 5.96% to 65.1 million tonnes in 2016 compared to this year’s projection of 61.44 million tons.

Thus, Indonesia’s CPO production is expected next year accounted for 53.7% of total global CPO production. While Malaysia, the second largest palm oil producer after Indonesia, is expected to produce 21 million tons of CPO in 2016, with a contribution of 32.25% to the global market.
In addition, the data show the world CPO price forecast in 2016, the influence of El Nino and sentiment biodiesel program. As well, the impact on the development of exports and global demand trends.




Also featured coverage of oil palm plantations in Indonesia, the largest province of the composition based on an oil palm plantation. The land area of ​​oil palm plantations in Indonesia in 2015 is estimated at 11.4 million hectares, with a composition of 5.9 million hectares of private land, 4.7 million hectares of the people, and 0.8 million hectares of state-owned companies.

On the other hand, also displayed a trend of investment in upstream and downstream sectors of the palm oil industry in Indonesia in the last five years, investment incentives prepared by the government, as well as projections of future trends. No lag, presented a special industrial area of ​​oil palm industry which is being built by the government, the target in 2030, and the trend of the modern oil industry chain.

As many as 23 pages of data is derived from various sources such as regulators in Indonesia, BPS, BKPM, relevant ministries, as well as industry associations, processed duniaindustri.com. Download database industry is a new feature in duniaindustri.com featuring dozens of data options to suit the needs of users. All data is presented in the form of easily downloadable pdf so that once users perform the process according to the procedure, ie click buy (purchase), click checkout and fill out the form. Duniaindustri.com priority to the legitimacy and validity of the data sources are presented. Thank you for your trust to duniaindustri.com.(*)

Source: click here

Ultrajaya Rajai 46% Pasar Susu UHT

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), emiten produsen susu ultra high temperature (UHT) dan teh siap minum (ready to drink tea), menguasai 46,1% pasar susu UHT di Indonesia, terbesar di negeri ini, dan 64,6% pasar teh siap minum dalam kemasan karton, menurut data yang diperoleh duniaindustri.com. Volume pasar susu cair diperkirakan tumbuh 2% pada 2015, sedangkan teh siap minum tumbuh lebih tinggi sebesar 6%.

Dengan pangsa pasar yang besar, Ultrajaya merupakan market leader di industri susu UHT dan teh siap minum. Ultrajaya menyisihkan sejumlah kompetitor di industri susu UHT antara lain Frisian Flag yang berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 19%, Indomilk 16%, Real Good 5%, Milo 5%, Clevo 4%, Diamond 1%, dan produsen lainnya 4%.



Sedangkan di segmen teh siap minum, Ultrajaya mengungguli Sosro yang berada di peringkat kedua dengan pangsa 21%, Teh Gelas 7%, Fruit Tea 3%, dan produsen lain 5%.

Ultrajaya menguasai pangsa 46,1% pasar susu cair UHT dengan beberapa line up produk yakni Ultra Milk, Low Fat Hi Cal, Ultra Mimi, dan susu kental Cap Sapi. Hingga kuartal III 2015, segmen produk susu perusahaan mencatatkan penjualan Rp 2,12 triliun atau berkontribusi 64,9% dari total penjualan. Sedangkan di segmen teh siap minum, line up produk perusahaan yakni Teh Kotak Jasmine Reguler dan Less Sugar serta Teh Kotak Rasa. Hingga kuartal III 2015, segmen teh dan minuman kesehatan mencatatkan penjualan Rp 826 miliar atau menyumbang 25,3% dari total penjualan.

Dengan pangsa pasar yang besar, Ultrajaya merupakan market leader di industri susu UHT dan teh siap minum.

Konsumsi susu cair di Indonesia mencapai 13,91 liter per kapita, tergolong rendah dibanding negara-negara ASEAN lain yakni Malaysia 54,11 liter per kapita, Thailand 34,04 liter per kapita, Filipina 14,56 liter per kapita. Segmen UHT membentuk segmen terbesar susu cair. Konsumsi susu cair di Indonesia berpotensi terus tumbuh ditopang urbanisasi dan peningkatan pendapatan, serta tren kebugaran dan kesehatan.






Hingga kuartal III 2015, Ultrajaya mencatatkan kinerja yang positif, meskipun di tengah perlambatan ekonomi. Kinerja ini didorong oleh tiga faktor utama, yaitu penjualan yang tahan krisis, harga susu tanpa lemak (skim milk) yang lebih rendah, dan penurunan utang.

Hingga September 2015, Utrajaya mencatatkan penjualan Rp 3,27 triliun, tumbuh 13,54% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,88 triliun. Sedangkan laba bersih tercatat Rp 393,55 miliar, melonjak 90,9% dari sebelumnya Rp 206,14 miliar.

“Sejak akhir 2014, penjualan Ultrajaya memang relatif solid. Penjualan yang stabil ditambah harga bahan baku yang lebih rendah telah meningkatkan margin penjualan dari 25,8% pada akhir 2014 menjadi 31,3% pada kuartal III-2015,” ungkap analis KDB Daewoo Securities Dang Maulida dalam risetnya.(*)



Sumber: klik di sini