Presiden Joko Widodo menunjuk Politisi Partai Golkar Airlangga Hartarto sebagai Menteri Perindustrian (Menperin) menggantikan politisi Hanura Saleh Husin. Salah satu tugas berat Menperin baru adalah membenahi struktur industri termasuk merealisasikan roadmap industri nasional.
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, Airlangga dipercaya Jokowi karena memiliki pengalaman panjang di bidang industri. Hal tersebut bisa dilihat dari pengalaman Airlangga di Komisi VI DPR yang membidangi perindustrian. “Beliau pengalaman sebagai anggota DPR panjang sebagai komisi industri,” kata Pramono.
Pramono menambahkan, Airlangga mempunyai tugas khusus dari Presiden untuk membangun roadmap industri di Indonesia ke depan.
Presiden meyakini dengan pengalaman dan kemampuannya, Airlangga bisa menjalankan tugas tersebut. “Beliau inisiator UU bidang industri. Kami yakin bisa dilakukan dengan baik,” kata dia.
Sementara itu, Ekonom Lana Soelistianingsih mengatakan pergantian satu menteri dan dua pimpinan lembaga sudah sangat tepat dilakukan Presiden Joko Widodo. Dia menyoroti pergantian Menperin, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dan Kepala Bappenas.
Mengenai posisi Menperin, sosoknya yang datang dari kalangan pengusaha Airlangga Hartarto cukup pas karena dianggap memiliki pemahaman terhadap industri. Pemahaman ini bisa digunakan untuk menghasilkan bahan baku dan memperbaiki permasalahan struktural karena maraknya kebutuhan impor untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
“Impor bahan baku masih mencapai 60 persen, untuk obat saja 90 persen, ini patut diwaspadai jika ekonomi tumbuh tinggi karena kita pernah alami defisit 4,4 persen di saat pertumbuhan ekonomi capai 6,2 persen saat 2013,” jelas Lana.
Rata-rata 64%
Sekitar 64% dari total bahan baku, bahan penolong, serta barang modal dari industri nasional masih bergantung pada impor untuk mendukung proses produksi, menurut data Kementerian Perindustrian. Karena itu, mayoritas industri rentan terhadap fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian yang diperoleh Duniaindustri.com, rata-rata impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal itu berasal dari sembilan sektor industri yakni perrnesinan dan logam, otomotif, elektronik, kimia dasar, makanan dan minuman, pakan ternak, tekstil dan produk tekstil (TPT), barang kimia lain, serta pulp dan kertas.
Sekitar 64% industri itu mendominasi nilai produksi industri nasional sebesar 80% serta menyumbang 65% penyerapan tenaga kerja. Hal itu menunjukkan peran strategis dari sembilan sektor industri tersebut.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, neraca perdagangan enam dari sembilan industri itu ternyata defisit karena impor lebih besar dibandingkan ekspor. Total impor bahan baku dan bahan penolong dari 64% industri nasional itu mencapai sekitar 67,9%, impor barang modalnya mencapai 24,6%, dan impor barang konsumsinya 7,5%.
Menyadari hal itu, pemerintah ingin segera mengatasi masalah tersebut karena menjadi prioritas Kementerian Perindustrian. Salah satu caranya mempercepat program hilirisasi agar ketergantungan bahan baku impor semakin kecil.
Selama ini, banyak sumber daya alam Indonesia baik di bidang agro maupun mineral diekspor dalam keadaan mentah, kemudian diolah di negara lain menjadi barang semi jadi, dan diimpor ke Indonesia sebagai bahan baku atau bahan penolong. Karena itu, pemerintah mengamanatkan bahan mentah wajib diolah di dalam negeri agar industri hilirnya tumbuh dengan struktur yang kuat.(*)
Sumber: di sini
* Cari data industri dan riset pasar, klik di sini
** Butuh copywriter profesional, klik di sini
*** Butuh konsultan public relation, klik di sini
Kamis, 28 Juli 2016
Rabu, 13 Juli 2016
Dana Tax Amnesty Rp 2.000 Triliun Bisa Pulihkan Sektor Riil
Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin berharap, dana yang masuk ke Indonesia dari penerapan pengampunan pajak (tax amnesty) diarahkan ke investasi sektor riil terutama sektor industri manufaktur
sehingga menggerakkan industri pengolahan (manufaktur). Pemerintah
menargetkan dana yang masuk dari tax amnesty mencapai Rp2.000 triliun,
dengan target penerimaan negara mencapai Rp160 triliun.
Duniaindustri.com menilai target Kemenperin untuk menyalurkan dana tax amnesty ke sektor riil terutama industri manufaktur cukup positif, meski masih menghadapi kendala daya saing secara global. Idealnya, dana jumbo dari tax amnesty bisa mengalir ke industri manufaktur yang terbukti memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian.
Selain itu, dana segar tersebut juga dapat memberikan stimulus modal baru untuk memulihkan kondisi industri manufaktur pasca dihantam perlambatan permintaan domestik, kejatuhan harga komoditas dunia, serta fluktuasi kurs. Perlu diingat, industri manufaktur terhempas cukup parah dengan kondisi layoff di sejumlah subsektor seperti garmen, tekstil, farmasi, elektronik, dan lainnya.
Di sisi lain, secara teori, aliran modal dari dana tax amnesty akan mencari target investasi dengan potensi keuntungan yang memadai dan jangka waktu yang tidak terlalu lama. Di sinilah perlunya peran pemerintah, untuk mengintermediasi antara sasaran dana tax amnesty yang cenderung bersifat jangka menengah disesuaikan dengan investasi manufaktur yang tergolong jangka panjang. Perbaikan daya saing industri manufaktur juga dibutuhkan agar industri ini tampil seksi dan menawarkan potensi keuntungan yang tinggi serta nilai tambah.
Menurut Menperin, dana dari tax amnesty tersebut seharusnya tidak hanya diarahkan untuk pengembangan industri keuangan. Pasalnya, industri manufaktur saat ini juga menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan.
"Harapan kami akan disalurkan juga untuk pengembangan industri manufaktur. Jadi, tidak hanya untuk hal-hal yang misalnya industri keuangan, tapi juga masuk ke industri manufaktur," katanya usai Halal Bihalal di kantornya.
Terlebih lagi, industri manufaktur selain dapat meningkatkan nilai tambah juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah besar serta memberikan devisa ekspor yang signifikan. Dengan demikian, dana dari tax amnesty bisa diputar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), setidaknya terdapat 10 industri prioritas yang akan dikembangkan hingga 2019. Menurut Saleh, dana yang masuk dari pengampunan pajak tersebut bisa diarahkan ke industri-industri prioritas tersebut.
"Misalnya, industri makanan minuman atau industri yang hulu dalam hal ini industri baja, industri farmasi, petrokimia, atau juga industri lainnya. Ini yang memang harus kita kembangkan, termasuk juga industri sawit (crude palm oil/CPO) dengan turunannya yang terus kita kembangkan dan industri pulp and paper," imbuh dia.
Saleh menyebutkan, pada 2015 sumbangan devisa yang dihasilkan dari produksi CPO dan turunannya mencapai US$ 19 miliar dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 6 juta orang. Jika dana tax amnesty tersebut masuk ke industri tersebut, maka sumbangan devisa serta penyerapan tenaga kerja akan jauh lebih besar.
"Pulp and paper itu kan cukup besar juga sekitar US$ 5,7 miliar devisa yang dihasilkan dengan tenaga kerja 2,1 juta. Termasuk industri lainnya, misalnya tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menyerap tenaga kerja cukup besar. Jadi, dana (tax amnesty) tersebut harapan kita ada yang msuk ke pengembangan industri manufaktur yang akan meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja cukup besar," pungkasnya.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri manufaktur tumbuh sebesar 5,04% sepanjang 2015, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi sebesar 4,79%. Pertumbuhan cabang industri manufaktur tahun 2015 yang tertinggi dicapai oleh industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik sebesar 7,83 persen, disusul oleh industri makanan dan minuman
sebesar 7,54 persen dan Industri mesin dan perlengkapan sebesar 7,49 persen.
Kontribusi sektor industri pengolahan non migas (manufaktur) pada tahun 2015 sebesar 18,18 persen dengan nilai Rp. 2.098,117 Triliun. Ekspor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 106,63 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 70,97 persen dari total ekspor nasional yang sebesar US$ 150,25 miliar. Sedangkan untuk impor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 108,95. Neraca ekspor-impor Hasil Industri Non Migas tahun 2015 adalah US$ -2,31 Miliar (neraca defisit).
Nilai investasi PMDN sektor industri tahun 2015 sebesar Rp 89,04 Triliun atau tumbuh sebesar 50,84 persen dibanding tahun 2014 sebesar Rp 41,84 Triliun. Nilai investasi PMA sektor industri Tahun 2015 mencapai US$ 11,76 Miliar atau menurun sebesar 9,65 persen dibandingkan Tahun 2014 sebesar US$ 13,01 Miliar.(*)
Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset persaingan pasar, klik di sini
Duniaindustri.com menilai target Kemenperin untuk menyalurkan dana tax amnesty ke sektor riil terutama industri manufaktur cukup positif, meski masih menghadapi kendala daya saing secara global. Idealnya, dana jumbo dari tax amnesty bisa mengalir ke industri manufaktur yang terbukti memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian.
Selain itu, dana segar tersebut juga dapat memberikan stimulus modal baru untuk memulihkan kondisi industri manufaktur pasca dihantam perlambatan permintaan domestik, kejatuhan harga komoditas dunia, serta fluktuasi kurs. Perlu diingat, industri manufaktur terhempas cukup parah dengan kondisi layoff di sejumlah subsektor seperti garmen, tekstil, farmasi, elektronik, dan lainnya.
Di sisi lain, secara teori, aliran modal dari dana tax amnesty akan mencari target investasi dengan potensi keuntungan yang memadai dan jangka waktu yang tidak terlalu lama. Di sinilah perlunya peran pemerintah, untuk mengintermediasi antara sasaran dana tax amnesty yang cenderung bersifat jangka menengah disesuaikan dengan investasi manufaktur yang tergolong jangka panjang. Perbaikan daya saing industri manufaktur juga dibutuhkan agar industri ini tampil seksi dan menawarkan potensi keuntungan yang tinggi serta nilai tambah.
Menurut Menperin, dana dari tax amnesty tersebut seharusnya tidak hanya diarahkan untuk pengembangan industri keuangan. Pasalnya, industri manufaktur saat ini juga menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan.
"Harapan kami akan disalurkan juga untuk pengembangan industri manufaktur. Jadi, tidak hanya untuk hal-hal yang misalnya industri keuangan, tapi juga masuk ke industri manufaktur," katanya usai Halal Bihalal di kantornya.
Terlebih lagi, industri manufaktur selain dapat meningkatkan nilai tambah juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah besar serta memberikan devisa ekspor yang signifikan. Dengan demikian, dana dari tax amnesty bisa diputar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), setidaknya terdapat 10 industri prioritas yang akan dikembangkan hingga 2019. Menurut Saleh, dana yang masuk dari pengampunan pajak tersebut bisa diarahkan ke industri-industri prioritas tersebut.
"Misalnya, industri makanan minuman atau industri yang hulu dalam hal ini industri baja, industri farmasi, petrokimia, atau juga industri lainnya. Ini yang memang harus kita kembangkan, termasuk juga industri sawit (crude palm oil/CPO) dengan turunannya yang terus kita kembangkan dan industri pulp and paper," imbuh dia.
Saleh menyebutkan, pada 2015 sumbangan devisa yang dihasilkan dari produksi CPO dan turunannya mencapai US$ 19 miliar dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 6 juta orang. Jika dana tax amnesty tersebut masuk ke industri tersebut, maka sumbangan devisa serta penyerapan tenaga kerja akan jauh lebih besar.
"Pulp and paper itu kan cukup besar juga sekitar US$ 5,7 miliar devisa yang dihasilkan dengan tenaga kerja 2,1 juta. Termasuk industri lainnya, misalnya tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menyerap tenaga kerja cukup besar. Jadi, dana (tax amnesty) tersebut harapan kita ada yang msuk ke pengembangan industri manufaktur yang akan meningkatkan nilai tambah dan menciptakan lapangan kerja cukup besar," pungkasnya.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri manufaktur tumbuh sebesar 5,04% sepanjang 2015, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi sebesar 4,79%. Pertumbuhan cabang industri manufaktur tahun 2015 yang tertinggi dicapai oleh industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik sebesar 7,83 persen, disusul oleh industri makanan dan minuman
sebesar 7,54 persen dan Industri mesin dan perlengkapan sebesar 7,49 persen.
Kontribusi sektor industri pengolahan non migas (manufaktur) pada tahun 2015 sebesar 18,18 persen dengan nilai Rp. 2.098,117 Triliun. Ekspor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 106,63 miliar dan memberikan kontribusi sebesar 70,97 persen dari total ekspor nasional yang sebesar US$ 150,25 miliar. Sedangkan untuk impor produk industri tahun 2015 sebesar US$ 108,95. Neraca ekspor-impor Hasil Industri Non Migas tahun 2015 adalah US$ -2,31 Miliar (neraca defisit).
Nilai investasi PMDN sektor industri tahun 2015 sebesar Rp 89,04 Triliun atau tumbuh sebesar 50,84 persen dibanding tahun 2014 sebesar Rp 41,84 Triliun. Nilai investasi PMA sektor industri Tahun 2015 mencapai US$ 11,76 Miliar atau menurun sebesar 9,65 persen dibandingkan Tahun 2014 sebesar US$ 13,01 Miliar.(*)
Sumber: di sini
* Cari data industri atau riset persaingan pasar, klik di sini
Minggu, 10 Juli 2016
Indonesia New Private Equity Fund
Divestama is a private fund (private investment schemes
to private / P-to-P) which is based on the (underlying) the real sector
in Indonesia that provides the fastest and highest profits.
Divestama not bulging investment, speculation, multilevel marketing (MLM), and not a means of raising funds en masse. Private fund was created and designed exclusively, limited, specifically, to a certain period to drive the industry chain that provides the fastest and highest profits.
We realize, in cooperation in investment, of course investors are undermined trust, security, and sustainability. Therefore, Divestama supported by efficient and effective management, asset base liquid, and rapid turnaround to avoid missmanagement.
Divestama will maintain the ratio of capital base to fund investors 4: 1, making it easier to maintain cash flow in the future. Divestama is a pioneer unification of real sector in Indonesia with direct investment scheme.
To build trust, Divestama also supported a number of assets in the real sector, which is worth in excess of funds raised from retail investors (ratio 20: 1). Divestama will emphasize on higher asset productivity and fast turnaround to provide the highest returns for investors.
For comparison, the average profit (profit sharing) of Divestama approximately 10% in 45 days. In the investment period, the fund investors will be played in the real sector to generate high profits and quick. After the completion of the investment period (45 days), investors' funds will be returned with a revenue share of 10%.
Why joint with Divestama?
1. Speed
We provide benefits (profit sharing) and payback of the fastest start. With the proliferation of digital trends as well as the Internet, speed is an initial foundation for a new system. For that investment system Divestama present to answer the challenge. So, we like super fast speed.
2. The business Andal / Mastering Industry
Divestama has been integrated with a complete industry chain, so that the flow of capital distribution can be transparent and satisfactory outcome.
3. Minimal Risk
Risks in every effort is certainly there. How to minimize strategy, it is our responsibility. With a ratio of cumulative funds authorized capital vs 4: 1, Divestama strive to maintain a solid cash flow to support profitability.
4. For High Yield
We come to the fourth stage, when the fruit was ripe and ready to be enjoyed. Briefly, Divestama want to provide benefits (profit sharing) 10% within 45 days and your capital back. What are you waiting for.(*)
For more info click here
Others portfolio click here
Buy Indonesian Product click here
Divestama not bulging investment, speculation, multilevel marketing (MLM), and not a means of raising funds en masse. Private fund was created and designed exclusively, limited, specifically, to a certain period to drive the industry chain that provides the fastest and highest profits.
We realize, in cooperation in investment, of course investors are undermined trust, security, and sustainability. Therefore, Divestama supported by efficient and effective management, asset base liquid, and rapid turnaround to avoid missmanagement.
Divestama will maintain the ratio of capital base to fund investors 4: 1, making it easier to maintain cash flow in the future. Divestama is a pioneer unification of real sector in Indonesia with direct investment scheme.
To build trust, Divestama also supported a number of assets in the real sector, which is worth in excess of funds raised from retail investors (ratio 20: 1). Divestama will emphasize on higher asset productivity and fast turnaround to provide the highest returns for investors.
For comparison, the average profit (profit sharing) of Divestama approximately 10% in 45 days. In the investment period, the fund investors will be played in the real sector to generate high profits and quick. After the completion of the investment period (45 days), investors' funds will be returned with a revenue share of 10%.
Why joint with Divestama?
1. Speed
We provide benefits (profit sharing) and payback of the fastest start. With the proliferation of digital trends as well as the Internet, speed is an initial foundation for a new system. For that investment system Divestama present to answer the challenge. So, we like super fast speed.
2. The business Andal / Mastering Industry
Divestama has been integrated with a complete industry chain, so that the flow of capital distribution can be transparent and satisfactory outcome.
3. Minimal Risk
Risks in every effort is certainly there. How to minimize strategy, it is our responsibility. With a ratio of cumulative funds authorized capital vs 4: 1, Divestama strive to maintain a solid cash flow to support profitability.
4. For High Yield
We come to the fourth stage, when the fruit was ripe and ready to be enjoyed. Briefly, Divestama want to provide benefits (profit sharing) 10% within 45 days and your capital back. What are you waiting for.(*)
For more info click here
Others portfolio click here
Buy Indonesian Product click here
Senin, 27 Juni 2016
Daftar Buyer Agent Textiles Industry in Indonesia
Industri
tekstil merupakan salah satu pendorong pertumbuhan manufaktur nasional,
mengingat negeri ini cukup disegani dan menduduki peringkat kesembilan
dalam jajaran produsen tekstil dunia. Namun, perkembangan industri ini
dalam tiga tahun terakhir tidak begitu menggembirakan.Padahal, selain jadi salah satu produsen terbesar dunia, Indonesia juga menjadi pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Tekstil sebagai kebutuhan dasar manusia mestinya mampu dimanfaatkan oleh industri demi pertumbuhan kinerja bisnis yang menjanjikan. Namun, persoalan di industri ini tidak kalah besar.
Untuk merekam track record pertumbuhan dan seluk beluk industri tekstil, industri serat tekstil, industri garmen, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 4 data dan riset industri khusus. Mari kita simak ulasannya berikut ini:
1) Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
2) Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
3) Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat Tekstil
4) Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia
Berikut ulasannya:
A) Tren Fashion dan Data Industri Tekstil. Data ini menampilkan tren fashion dan data industri tekstil, mulai dari tren industri fashion dunia. Industri fashion dunia masih tumbuh positif pada 2015 dengan tiga proyeksi: 6% (pertumbuhan rendah), 8% (pertumbuhan moderat), dan 12% (pertumbuhan tinggi). Dengan proyeksi seperti itu, nilai pasar industri fashion dunia diperkirakan US$ 550 miliar – US$ 854 miliar pada 2015.
Pasar fashion dan tekstil terbesar di dunia masih dipegang Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, dengan pertumbuhan yang relatif rendah, sekitar 2% hingga 2020, dipengaruhi perlambatan ekonomi global. Pasar fashion untuk wanita tumbuh paling tinggi, sekitar 4,8%, mengindikasikan kebutuhan fashion wanita terus tumbuh.
Dari segmentasi, pakaian luar (outerwear) berkontribusi terbesar, sekitar 57,2% terhadap total pasar fashion, disusul sepatu (footwear), dan pakaian dalam (underwear). Pakaian pria menyumbang kontribusi terbesar hingga 42% untuk segmen apparel (tekstil), disusul pakaian wanita 36%, dan pakaian anak-anak 22%.
Sementara di Indonesia, nilai pasar tekstil yang termasuk produk fashion pada 2015 diestimasi US$ 15,19 miliar atau setara Rp 208 triliun (kurs Rp 13.700/US$), menurut kompilasi data duniaindustri.com dari BPS, asosiasi industri, dan sumber lainnya. Perlambatan pertumbuhan di 2015 disebabkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS, perlambatan perekonomian global, serta anjloknya harga komoditas dunia.
Data ini juga dilengkapi dengan tren warna fashion 2016 yang diperkirakan masih didominasi warna cerah. Selain itu, data industri tekstil, mulai dari ekspor, impor, biaya produksi tekstil, juga dipaparkan dalam data ini. Di sisi lain, ditampilkan juga peta persaingan perusahaan produsen fashion ternama di Indonesia dan di dunia.
Data sebanyak 13 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain asosiasi industri, lembaga riset dunia, dan BPS. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
B) Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir) ini berisi tren konsumsi tekstil, kinerja produksi dari hulu hingga hilir, perdagangan (ekspor impor), analisis pasar ekspor dan kondisi perekonomian negara tujuan ekspor. Data yang berjumlah total 14 halaman ini berasal dari asosiasi industri mencakup Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Fiber Indonesia (Apsyfi), Badan Pusat Statistik.(*)
C) Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat Tekstil. Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat (Tekstil Hulu). Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat ini menggambarkan penguasaan pasar top 10 perusahaan benang dan serat di Indonesia periode 2011-2013.(*)
D) Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia ini berisi nama perusahaan buyer agent tekstil global dan representative office di Indonesia, contact person, nomor telepon. Buyer agent yang dimaksud antara lain Adidas Group, Columbia Sportwear Company, Contempo Limited, Easthern Fashions, Focus Far East Ltd, GAP Indonesia, H&M Internatioanl Ltd, Linmark Westman, PTE.Ltd, Marubeni Indonesia, Mitsubishi Corporation, Nike Indonesia, PT Artamenara Interindo.(*)
Baca selengkapnya, klik di sini
* Cari data spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini
Minggu, 26 Juni 2016
Membedah Market Leader Industri Elektronik di Indonesia
Industri
elektronik menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor yang cukup
signifikan. Selain itu, industri ini memiliki pasar yang sangat besar di
dalam negeri.Bagaimana rekam jejak industri elektronik di Indonesia, tren pertumbuhan, serta pangsa pasar pemain utama, duniaindustri.com memiliki sedikitnya dua data industri elektronik, simak ulasannya berikut ini:
1) Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015
2) Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community
Berikut penjelasannya:
A) Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015 ini menampilkan data, kajian, analisis, dan riset terkait seluruh informasi mengenai industri elektronik rumah tangga (home appliances) di Indonesia, mulai dari tren nilai pasar (market size) untuk industri elektronik home appliances, 14 kategori elektronik home appliances, analisis tren pertumbuhan 2005-2015, volume pasar (demand) 14 kategori elektronik home appliances, porsi kategori produk terhadap total pasar elektronik home appliances, hingga pangsa pasar, serta tren pasar elektronik global.
Data ini dimulai dari tren pertumbuhan nilai pasar industri elektronik home appliances di Indonesia periode 2005-2015, dilengkapi dengan tren pertumbuhannya, dan 14 kategori yang termasuk produk elektronik home appliances (halaman 2).
Kemudian, data market size tersebut dianalisis secara khusus pada halaman 3 untuk menghitung pertumbuhan rata-rata majemuk per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) 2005-2015. Di halaman 4, diuraikan volume pasar 14 kategori elektronik home appliances di Indonesia dan tren yang terjadi sejak 2013-2015.
Pada halaman 5, diulas kontribusi 14 kategori elektronik home appliances terhadap total pasar elektronik home appliances di Indonesia. Di halaman 6, dijabarkan tren pangsa pasar televisi di Indonesia dengan delapan pemain utama yang menguasai market share terbesar.
Di halaman 7, ditampilkan tren investasi dan ekspor produk elektronik home appliances sejak 2007-2025 (forecast). Berdasarkan riset duniaindustri.com, nilai investasi industri elektronik nasional pada 2012 ditargetkan mencapai US$ 7 miliar dengan ekspor US$ 20 miliar, rata-rata investasi kumulatif mencapai US$ 500 juta per tahun. Di halaman 8, diulas tren produksi dan serapan tenaga kerja di industri elektronik nasional.
Pada halaman 9-10, diulas strategi pengembangan industri elektronik berdasarkan rancangan pemerintah periode 2010-2025. Data ini dilengkapi dengan analisis kekuatan dan kelemahan industri elektronik nasional pada halaman 11 & 13. Data ini juga dilengkapi dengan perilaku pasar konsumen elektronik home appliances pada halaman 12.
Pada halaman 14-25, diulas tren industri elektronik secara global, mulai dari neraca perdagangan produk elektronik di negara-negara ASEAN dan porsi tujuan perdagangan produk elektronik negara ASEAN (halaman 14), negara eksportir elektronik terbesar di ASEAN beserta top 5 produk elektronik yang paling banyak diekspor (halaman 15). Indonesia menempati urutan keenam dalam eksportir produk elektronik terbesar di ASEAN, sementara produk elektronik yang paling banyak diekspor adalah electronic integrated circuits and micro-assemblies.
Pada halaman 16-18, ditampilkan matriks perbandingan daya saing sejumlah industri manufaktur dan komoditas, termasuk consumer electronics dan electronic components, dari seluruh negara di ASEAN.
Data ini dilengkapi dengan proyeksi pertumbuhan industri elektronik global per kawasan periode 2013-2015 pada halaman 19, tren nilai pasar elektronik global periode 2005-2015 beserta tren pertumbuhannya pada halaman 20. Secara khusus, data ini menampilkan tren market size elektronik global dibagi per kawasan, lengkap dengan tren pertumbuhan, jumlah populasi, serta rata-rata penduduk per rumah tangga. Asia Tenggara dan China merupakan pasar elektronik global terbesar dengan jumlah populasi 3,9 miliar orang, GDP 6,7% (2015), dan nilai pasar lebih dari US$ 70 miliar.
Tidak ketinggalan, ditampilkan juga pada halaman 24-25 top 10 global market share untuk industri elektronik home appliance lengkap dengan nilai penjualannya.
Data sebanyak 26 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Electronic Marketer Club (EMC), Gabungan Elektronik Indonesia (Gabel), sejumlah perusahaan elektronik terbesar, dan diolah duniaindustri.com.
Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
B) Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community ini menampilkan neraca perdagangan produk elektronik di negara-negara ASEAN. Nilai ekspor produk elektronik Indonesia ke negara-negara ASEAN tercatat US$ 593 juta, sementara ekspor produk elektronik Indonesia ke dunia mencapai US$ 8 miliar. Nilai ekspor produk elektronik Indonesia ke ASEAN masih jauh tertinggal dibanding Malaysia (US$ 2,5 miliar), Singapura (US$ 6,2 miliar) dan Thailand (US$ 2,3 miliar). Juga ditampilkan porsi tujuan perdagangan produk elektronik negara ASEAN.
Selain itu, ditampilkan ranking eksportir produk elektronik negara-negara ASEAN, dimana Indonesia menempati urutan 29 dengan nilai US$ 10,4 miliar dengan pertumbuhan per tahun 28,1%. Juga diperinci produk elektronik yang mendominasi ekspor dari Negara ASEAN.
Secara khusus, data dan analisis ini juga menampilkan perbandingan daya saing industri di negara ASEAN, antara lain industri makanan olahan, kayu, tekstil, kimia, elektronik, otomotif, dan mineral. Data dan analisis komprehensif yang berjumlah 45 halaman ini merupakan hasil kompilasi tim riset Duniaindustri.com, berasal dari Kementerian Perindustrian, BPS, ASEAN Trade Map, BDG Asia, Bank Dunia.
Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik purchase, klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Baca selengkapnya di sini
* Cari data/riset pasar yang lebih spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini
** Butuh content provider andal, klik di sini
Rabu, 22 Juni 2016
Mengupas Peta Persaingan Industri Kosmetik
Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) ini dirilis per Juni 2016 menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook
secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan
di industri kosmetik di Indonesia, mencakup highlights dan profil
ringkas pemain-pemain di industri ini, tren permintaan/kebutuhan
(demand) di pasar lokal, hingga analisis pangsa pasar sejumlah produk
kosmetik dengan tingkat persaingan paling tinggi.Data ini dimulai dengan menampilkan highlights ekonomi serta pasar Indonesia, dilengkapi tren konsumen dan tingkat daya beli. (halaman 2-4)
Pada halaman 5, disajikan terminologi kosmetik dari bahasa Yunani yang berarti berhias. Dilanjutkan dengan profil singkat industri kosmetik nasional pada halaman 6, berisi jumlah perusahaan, jumlah tenaga kerja, ekspor-impor, serta segmentasi produk kosmetik.
Di halaman 7, ditampilkan nilai penjualan (market size) industri kosmetik di Indonesia periode 2009-2015 disertai persentase pertumbuhannya. Data di halaman 7 dikomparasi dengan pertumbuhan kosmetik (personal care dan home care) dengan total pertumbuhan industri consumer goods di halaman 8.
Pada halaman 9-11, duniaindustri.com membuat riset pasar terkait pangsa pasar lipstik per merek di Indonesia, tren pangsa pasar 2010-2015, serta analisis market leader. Khusus untuk produk bedak, ditampilkan juga pangsa pasar per merek serta analisis market leader di halaman 12-13.
Di halaman 14-15, dipaparkan tren penjualan kosmetik secara ritel dan consumer behavioral.
Beranjak pada halaman 16-44 merupakan intisari riset ini yang menampilkan market intelligence terhadap 4 perusahaan market leader di industri kosmetik di Indonesia. Tinjauan diarahkan pada kinerja keuangan, penjualan per kategori produk, strategi pemasaran, jaringan distribusi, kapasitas produksi dan fasilitas pabrik, serta strategi pengembangan produk.
Sementara pada akhir riset ini menampilkan 5 merek (top 5) kosmetik dengan nilai penjualan paling tinggi di Indonesia.
Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) sebanyak 45 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari BPS, WHO dan Bank Dunia, serta sejumlah perusahaan kosmetik di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)
Baca selengkapnya di sini
Kamis, 16 Juni 2016
Daftar 9 Perusahaan Market Leader Bisnis Beton Pracetak
Sebanyak 9 perusahaan menguasai 89% kapasitas produksi beton pracetak di Indonesia. Menurut penelusuran data duniaindustri.com,
kesembilan perusahaan beton pracetak tersebut merupakan pemain utama
(big players) dari total sekitar 20 perusahaan yang berkecimpung di
sektor ini dengan 28 fasilitas produksi dan total kapasitas produksi
nasional mencapai 5,2 juta ton per tahun.Adalah PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) yang menjadi pemimpin pasar (market leader) di industri beton pracetak dengan pangsa pasar (market share) 42,7% pada 2015, menurut pernyataan perusahaan. Dari sisi kapasitas produksi, Wijaya Karya Beton atau sering dikenal Wika Beton menguasai 38,6% dari total kapasitas produksi di Indonesia. Pada 2015, kapasitas produksi beton pracetak perseroan mencapai 2,34 juta ton per tahun.
Tahun lalu, perseroan mempertahankan posisi terbesar dalam kepemilikan pangsa pasar di Indonesia dengan memiliki sembilan pabrik, enam wilayah penjualan, dan dua kantor representative penjualan yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh pabrik dan wilayah penjualan tersebut senantiasa bersinergi secara menyeluruh untuk memastikan kepuasan pelanggan melalui kualitas dan spesifkasi produk yang sesuai, ketepatan waktu, serta harga yang bersaing.
Selain Wika Beton, kesembilan perusahaan big players di industri beton pracetak antara lain PT Adhimix Precast Indonesia, PT Waskita Beton Precast, PT Waskita Beton Precast, PT Jaya Beton Indonesia.
Wijaya Karya Beton diprediksi meraup untung dari belanja pemerintah yang sebagian besar untuk infrastruktur pada tahun ini. "Bersama dengan induk usaha perseroan, yaitu PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), akan memperoleh pendapatan dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (LRT). Kontrak yang didapatkan Wika Beton dari proyek ini diperkirakan Rp 6-9 triliun," papar analis PT Daewoo Securities Indonesia Mimi Halimin melalui risetnya.
Namun, menurut Mimi, akan tercipta kompetisi yang ketat di bisnis precast, karena semua BUMN konstruksi telah memiliki unit usaha di bidang ini. Sebagai contoh, PT Waskita Beton Precast, anak usaha PT Waskita Karya Tbk (WSKT), memiliki kapasitas yang hampir sama dengan Wika Beton, yaitu 2,25 ton per tahun.
Walaupun kompetisi semakin berat, namun sepertinya permintaan untuk beton pracetak akan meningkat seiring belanja infrastruktur yang terus tumbuh.
Berdasarkan data media, realisasi belanja pemerintah mencapai Rp160 triliun sepanjang Januari 2016 atau 7,6% dari APBN 2016, dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 106 triliun (APBN-P 2015). “Ini menunjukkan pemerintah memang menggenjot infrastruktur dengan realisasi belanja yang lebih besar," imbuh Mimi.
Adapun Wika Beton menargetkan perolehan kontrak baru Rp 4 triliun pada 2016, tumbuh 14,28% dari realisasi perolehan tahun lalu Rp 3,5 triliun.
Akuisisi Terbaru
Sementara itu, PT Waskita Beton Precast, anak usaha emiten konstruksi pelat merah PT Waskita Karya Tbk (WSKT), berhasil mengakuisisi dua pabrik beton pracetak dengan kapasitas produksi 500.000 ton per tahun.
Kedua pabrik tersebut berada pracetak di Subang, Jawa Barat dan Cilegon, Banten. Kedua pabrik tersebut akan menambah kapasitas produksi perseroan menjadi 2,3 juta ton per tahun.
Untuk mengakuisisi pabrik tersebut, Waskita Beton Precast mendapat pinjaman dari induk usaha sebesar Rp 300 miliar. Tingkat bunga fasilitas pinjaman tersebut sebesar 10,5% per tahun dan fasilitas pinjaman dalam jangka waktu enam bulan sejak pertandatangan perjanjian pada 29 Januari 2016.
Dengan tambahan kedua pabrik yang baru diakuisisi tersebut maka total pabrik yang dimiliki Waskita Beton Precast sudah delapan pabrik. Tahun lalu, perseroan berhasil menambah dua pabrik di Sadang-Jawa Barat dan Karawang.(*)
Baca selengkapnya di sini
Langganan:
Postingan (Atom)










